BAITSULTRA.COM/KONAWE – Tim Ekspedisi Latoma-Routa Bersahaja telah tiba di Kota Unaaha dengan sehat dengan misi yang berhasil dituntaskan. Kedatangan mereka di Rujab Wakil Bupati, Sabtu (7/11/2026) disambut langsung oleh Bupati Konawe, H. Yusran Akbar ST.
Tentunya perjalanan yang telah mereka lalui tidaklah mudah. Karena mereka tau, Hutan tidak pernah menjanjikan perjalanan yang mudah. Di balik rimbunnya pepohonan, tersimpan medan yang bisa menguras tenaga, menguji keberanian, bahkan mempertemukan manusia dengan pengalaman yang sulit dijelaskan.
Bagi anggota Tim Ekspedisi Latoma–Routa Bersahaja, belantara bukan sekadar hamparan hutan yang harus dilewati. Ia adalah ruang ujian, tempat keberanian dipertaruhkan, kesabaran ditempa, dan keyakinan diuji berkali-kali.
Selama 14 hari, rombongan yang dipimpin Edi Lamambo itu menembus kawasan perbatasan Kecamatan Latoma dan Routa, Kabupaten Konawe. Mereka datang membawa misi, tetapi pulang dengan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar keberhasilan mencapai tujuan.
Ada kisah tentang tebing-tebing curam yang harus dipanjat dengan beban berat di pundak. Ada sengatan tawon yang menemani siang dan malam. Ada jejak kehidupan masa lampau di dinding batu. Bahkan, ada pengalaman ganjil yang hingga kini masih tersimpan dalam ingatan para peserta.
Di sana, setiap langkah memiliki cerita. Setiap persinggahan menyimpan kejutan. Bagi Edi Lamambo, ekspedisi ini bukan hanya perjalanan fisik dan mental. Ia menyebutnya sebagai perjalanan spiritual.
Alam memperlihatkan banyak hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Salah satu ujian paling berat adalah serbuan tawon yang seolah menjadikan rombongan sebagai bagian dari habitatnya.
Mereka makan dikerumuni tawon. Beristirahat pun tidak tenang. Bahkan ketika malam tiba dan tubuh membutuhkan tidur, gangguan itu masih terus berlangsung. Siang, malam, pagi hingga subuh, tawon-tawon itu seolah tak pernah pergi.
Namun, gangguan tersebut terasa jauh lebih berbahaya ketika rombongan harus melintasi tebing curam. Dengan beban berat di punggung, mereka bergelantungan pada akar dan dahan pohon. Setiap pegangan menjadi penentu keselamatan. Di bawah tebing, batu-batu besar seakan menunggu siapa pun yang kehilangan keseimbangan.
Pada saat bersamaan, tawon masih beterbangan di sekitar wajah. Tangan tak bisa sembarangan bergerak. Mengusir tawon berarti mempertaruhkan pegangan. Mereka harus memilih bertahan dengan sengatan atau mengambil risiko kehilangan keseimbangan. Di tengah situasi itulah keberanian mereka benar-benar diuji.
Edi memilih berada di bagian tengah rombongan. Dari posisi tersebut, ia berusaha mengendalikan ritme perjalanan, memantau anggota di depan dan belakang, sekaligus menjaga agar tidak ada yang tertinggal.
Baginya, memimpin ekspedisi bukan hanya soal menunjukkan jalan. Ia harus mengenali karakter setiap anggota, mengendalikan emosi, dan memastikan kelelahan tidak memecah kebersamaan.
Sebab, di tengah belantara, seseorang akan memperlihatkan karakter aslinya ketika tenaga mulai habis dan keadaan semakin sulit.
Di balik kerasnya perjalanan, hutan ternyata menyimpan sesuatu yang membuat mereka takjub. Sejak meninggalkan Latoma, tim tidak hanya menapaki jalur demi jalur. Mereka juga mencatat setiap perubahan kontur tanah, kemiringan medan, hingga berbagai situs yang ditemukan.
Salah satu yang menarik perhatian adalah ornamen dan artefak berukuran besar pada dinding batu. Mereka juga menemukan tiang-tiang rumah yang masih berdiri tegak. Pemandangan itu memunculkan dugaan adanya jejak kehidupan manusia pada masa lalu di kawasan tersebut.
Di beberapa titik, rombongan menjumpai goa-goa yang diduga menjadi tempat persembunyian atau habitat rusa. Sementara di atas tebing batu terdapat goa yang oleh anggota tim disebut sebagai goa sorongan.
Temuan itu membuat perjalanan seolah berubah menjadi penelusuran masa lalu. Hutan yang selama ini terlihat sunyi ternyata menyimpan kemungkinan cerita peradaban yang belum banyak diketahui.
Di kawasan Lawali, mereka juga menemukan hamparan lahan sagu yang sangat luas, membentang di wilayah yang relatif landai.
Bagi rombongan, semua itu menjadi catatan penting bahwa belantara Latoma–Routa bukan hanya memiliki tantangan alam, tetapi juga menyimpan potensi sejarah dan sumber daya yang layak ditelusuri lebih jauh.
Di tengah perjalanan yang melelahkan, alam sesekali memberikan hadiah. Rombongan menemukan aliran sungai dengan air yang jernih dan menyegarkan. Mereka pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mandi dan melepas penat setelah berhari-hari berjalan.
Namun, sungai itu menyimpan pengalaman yang membuat mereka penasaran. Saat berada di dalam air, mereka melihat ikan berwarna keemasan. Gerakannya tidak seperti ikan yang biasa dijumpai. Menurut pengamatan mereka, ikan tersebut berenang dengan posisi miring.
Kejadian itu menjadi salah satu cerita yang terus diperbincangkan.
Anggota lainnya, Zein mengungkapkan, penemuan yang tak kalah menarik. Mereka menjumpai aliran air terjun di bagian atas tebing, tetapi aliran air yang turun tidak tampak berlanjut ke bagian bawah. Air tersebut justru masuk ke dalam tanah.
Zein menilai lokasi itu memiliki daya tarik alam yang berpotensi dikembangkan menjadi objek wisata.
Di tengah kesunyian hutan, mereka menemukan keindahan yang mungkin selama ini tersembunyi dari pandangan banyak orang.
Sementara itu Ali, salah seorang anggota ekspedisi, mengakui bahwa tawon menjadi ujian paling mengesankan selama perjalanan.
Bahkan ketika sedang bergelantungan di tebing, serangga tersebut tetap mengerumuni wajah mereka.
“Karena saat kami bergelantungan di tebing, ada tawon yang mengerumuni wajah kami. Mau dipukul pakai tangan, tetapi kami takut pegangan kami lepas. Karena batu-batu besar di bawah sudah siap menunggu,” kenang Ali.
Kalimat itu menggambarkan betapa tipisnya batas antara keberanian dan bahaya.
Satu tangan yang terlepas bisa membawa akibat fatal. Karena itu, mereka memilih bertahan, meski sengatan harus diterima.
Bagi Ali, pengalaman tersebut menjadi ujian yang mengajarkan mereka untuk tetap kuat dalam keadaan sesulit apa pun.
Namun, bukan hanya tawon dan tebing yang membuat perjalanan itu sulit dilupakan. Ada cerita lain yang lebih sulit diterangkan.
Ali mengungkapkan, selama ekspedisi, beberapa anggota mengalami kejadian yang dianggap ganjil. Mereka kemudian sepakat untuk tidak menceritakan pengalaman tersebut selama masih berada di dalam hutan.
Semua kisah itu disimpan terlebih dahulu. Mereka baru akan membicarakannya setelah perjalanan selesai dan seluruh anggota kembali dengan selamat.
Salah satu cerita bermula dari malam pertama.
Ali mengaku, pada hari pertama sempat muncul penyesalan karena memutuskan mengikuti ekspedisi. Beratnya medan membuatnya membayangkan betapa panjang dan melelahkannya perjalanan yang harus dilalui.
Namun, malam itu muncul cerita tentang sebuah mimpi.
Ronal mengungkapkan, dalam mimpinya dirinya
bertemu teman dari Desa Nesowi yang memberikan petunjuk agar mereka membaca sesuatu dan meminum air mujarab supaya perjalanan terasa lebih cepat.
“Kalau kalian ingin cepat sampai dalam perjalanan, baca ini dan minum airnya,” demikian pesan dalam mimpi yang diceritakan kepada rombongan.
Setelah pengalaman itu, mereka mengaku merasa perjalanan lebih ringan. Beban di pundak tetap terasa berat, tetapi rasa sakit pada pergelangan kaki tidak terlalu mereka rasakan.
Bagi mereka, pengalaman tersebut menjadi bagian dari dimensi spiritual yang mewarnai perjalanan.
Pengalaman ganjil lainnya dialami Theo, satu-satunya perempuan yang ikut dalam ekspedisi tersebut. Saat berada di dalam tenda, ia merasa ada seseorang berdiri di belakangnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara batuk sebanyak dua kali. Theo mengira orang tersebut adalah salah seorang teman seperjalanan. Ia pun membalas batuk itu.
Namun, ketika mencoba memastikan siapa yang berada di belakangnya, tak seorang pun terlihat.
Ia kemudian memperhatikan posisi teman-temannya. Seluruh anggota rombongan justru berada di bagian depan tenda.
Lantas, siapa yang batuk dua kali di belakangnya? Pertanyaan itu menjadi salah satu cerita yang menambah panjang daftar pengalaman tak biasa selama ekspedisi.
Pada hari ketiga, hujan mengguyur perjalanan mereka. Di tengah kondisi alam yang berubah, rombongan tetap berusaha melanjutkan langkah.
Bagi sebagian anggota, hujan itu dimaknai sebagai bagian dari penyambutan alam terhadap perjalanan mereka. Selama 14 hari, mereka belajar membaca alam, mengenali keterbatasan diri, dan memahami arti saling menjaga.
Tidak semua orang bisa menjadi yang terkuat. Tidak semua orang mampu berjalan dengan kecepatan yang sama. Tetapi mereka menyadari bahwa perjalanan itu hanya akan berhasil jika seluruh anggota tetap bergerak sebagai satu kesatuan.
Edi Lamambo, sebagai ketua tim, menyimpan banyak pelajaran dari perjalanan tersebut.
Baginya, ekspedisi ini bukan sekadar menaklukkan belantara. Ada pengalaman spiritual, penemuan jejak peradaban, dan pelajaran kehidupan yang tidak akan ditemukan hanya dengan membaca buku atau mendengarkan cerita orang lain.
Mereka pernah takut. Mereka pernah kelelahan. Bahkan ada yang sempat menyesali keputusan untuk berangkat. Namun, tidak satu pun dari keadaan itu menghentikan langkah mereka.
Kini, setelah kembali dari belantara Latoma–Routa, yang tersisa bukan hanya cerita tentang perjalanan panjang selama dua pekan.
Ada kenangan tentang tangan yang menggenggam akar di tebing curam, tubuh yang menahan sengatan tawon, mata yang menyaksikan jejak masa lalu, dan telinga yang mendengar suara-suara ganjil di tengah kesunyian hutan.
Mereka masuk ke dalam hutan sebagai rombongan yang membawa misi. Mereka kembali sebagai orang-orang yang membawa pengalaman berbeda.
Tidak ada komentar