BAITSULTRA.COM/KONAWE – Minggu (30/8/2026) ribuan orang mulai berbaris di sepanjang bibir Pantai Tanjung Lalimbue, Kecamatan Kapoiala, Minggu (30/8/2026). Debur ombak yang berkejaran dengan angin laut menjadi irama alam yang mengiringi langkah mereka. Tidak ada sekat antara pejabat, aparatur sipil negara, anggota Pramuka, nelayan, maupun masyarakat biasa. Semua berdiri dalam satu barisan panjang, memegang tali jala yang membentang ke arah laut.
Di hadapan mereka, hamparan biru Laut Banda terlihat tenang. Namun suasana di pantai justru penuh semangat. Teriakan komando bersahut-sahutan. Sesekali terdengar gelak tawa ketika tali jala terasa semakin berat ditarik ke daratan.
“Tarik… tarik… tarik bersama!”
Seruan itu menggema di sepanjang pantai, disambut ribuan tangan yang bergerak serentak. Cucuran keringat mulai membasahi wajah, tetapi tidak ada yang melepaskan genggaman. Mereka terus menarik, perlahan namun pasti.

Pemandangan itu menjadi salah satu momen paling berkesan dalam penutupan Kemah Bakti dan Festival Wisata Bahari Bersahaja 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Konawe bersama Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Konawe.
Bagi sebagian peserta, kegiatan tersebut mungkin sekadar bagian dari rangkaian festival. Namun bagi banyak orang yang hadir, penarikan jala massal adalah simbol tentang bagaimana sebuah daerah dibangun dengan kerja bersama, saling membantu, dan bergerak dalam satu tujuan. Dan ketika ujung jala mulai terlihat mendekati pantai, sorak sorai peserta semakin riuh.
Di tengah keramaian itu, Bupati Konawe H. Yusran Akbar, ST ikut menyaksikan langsung proses penarikan jala. Ia tampak beberapa kali berbaur dengan peserta. Dirinya juga mengapresiasi terhadap kolaborasi lintas sektor dalam penyelenggaraan kegiatan ini.
“Festival Bahari Bersahaja ini bukan sekadar ajang rekreasi akhir pekan, melainkan wujud nyata sinergitas antara pemerintah daerah, Gerakan Pramuka, dan seluruh lapisan masyarakat dalam mengangkat potensi wisata bahari Konawe,” katanya.
Selain itu orang nomor satu di Konawe itu mengaku sangat terkesan melihat antusiasme ribuan peserta yang bahu-membahu menarik jala, karena itu adalah cermin gotong royong yang harus terus kita rawat,” ujar Bupati Yusran di sela-sela acara.

Ia menambahkan bahwa Tanjung Lalimbue memiliki daya tarik alam yang luar biasa dan ke depan akan terus dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan berbasis kearifan lokal.
“Dengan semangat kebersamaan ini, saya optimistis sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Konawe akan semakin maju, sekaligus menjadi ruang edukasi bagi generasi muda tentang kelestarian ekosistem pesisir,” tegasnya
Ucapan itu terasa begitu relevan dengan suasana yang terlihat di lapangan. Tidak ada yang menonjolkan diri. Tidak ada yang merasa lebih penting dari yang lain. Semua mengambil peran yang sama yakni menarik jala hingga berhasil tiba di daratan.
Setelah perjuangan bersama itu berakhir, aroma lain mulai mengambil alih suasana pantai. Asap tipis mengepul dari puluhan tungku pembakaran yang telah disiapkan. Ikan hasil tangkapan segera dibersihkan, dibumbui sederhana, lalu dibakar bersama.
Tak lama kemudian, kawasan Pantai Tanjung Lalimbue berubah menjadi ruang makan terbuka terbesar hari itu. Orang-orang duduk berkelompok di atas tikar, di bawah tenda, bahkan di pasir pantai. Mereka menikmati ikan bakar sambil berbincang santai dan tertawa bersama.
Kesederhanaan justru menjadi daya tarik utama. Tidak ada jamuan mewah. Tidak ada protokoler yang kaku. Yang ada hanyalah kebersamaan yang tumbuh alami di antara masyarakat.

Bagi pelaku UMKM yang ikut meramaikan festival, kegiatan tersebut juga membawa berkah tersendiri. Selama tiga hari pelaksanaan, lapak-lapak kuliner dan produk lokal dipadati pengunjung. Banyak di antara mereka yang mengaku penjualannya meningkat dibanding hari-hari biasa.
Sementara itu, anak-anak Pramuka yang mengikuti Kemah Bakti memperoleh pengalaman yang sulit didapatkan di ruang kelas. Mereka belajar hidup sederhana, bekerja sama, menjaga lingkungan, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Selama tiga hari pelaksanaan, kawasan Tanjung Lalimbue memang tidak pernah sepi. Festival layang-layang menghiasi langit pesisir dengan warna-warni. Perlombaan tradisional menghadirkan gelak tawa. Pasar murah dan bazar UMKM menggerakkan ekonomi rakyat. Pemeriksaan kesehatan gratis dan edukasi kebencanaan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Namun dari seluruh rangkaian kegiatan itu, penarikan jala massal dan Festival Bakar Ikan menjadi penutup yang paling membekas.
Di sana, ribuan orang menunjukkan bahwa gotong royong masih hidup. Bahwa kebersamaan masih menjadi kekuatan masyarakat Konawe. Dan bahwa laut bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga ruang yang menyatukan banyak orang dalam satu semangat.
Saat acara perlahan berakhir, jejak-jejak kaki masih terlihat di pasir Pantai Tanjung Lalimbue. Ombak datang menghapusnya sedikit demi sedikit. Namun kenangan tentang ribuan tangan yang menarik jala bersama, tentang tawa yang pecah di tepi pantai, dan tentang kebersamaan yang tercipta sepanjang festival, tampaknya akan tinggal lebih lama dalam ingatan mereka yang hadir hari itu.
Tidak ada komentar