BAITSULTRA. COM/KONAWE – Deru mesin serut memecah kesunyian sore, pada Rabu (7/10/2026). Serbuk kayu beterbangan, menempel di baju putih dan wajah pria yang berdiri di depan tumpukan papan itu. Tangannya bergerak lincah, sesekali mengukur, lalu kembali menyerut permukaan kayu yang kasar.
Tidak ada ajudan, tidak ada protokoler, tidak ada kursi empuk atau meja rapat. Yang ada hanyalah seorang tukang kayu.
Namun siapa sangka, pria yang tangannya dipenuhi debu kayu itu adalah Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., sosok yang setiap hari bergelut dengan urusan pemerintahan, kebijakan publik, hingga dinamika politik sebagai Ketua DPW PAN Sulawesi Tenggara.
Di balik jabatan dan kekuasaan yang melekat pada dirinya, Yusran ternyata masih menyimpan identitas lama yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan, yakni seorang anak kampung yang tumbuh bersama aroma kayu dan suara gergaji.
Banyak orang mengenalnya sebagai pemimpin daerah. Sebagian melihatnya sebagai politikus. Namun sedikit yang tahu bahwa sebelum berdiri di podium-podium kehormatan, ia pernah berdiri berjam-jam di bengkel sederhana, mengandalkan tenaga dan keterampilan untuk membantu kehidupan keluarga.
Bagi sebagian orang, kayu hanyalah benda mati. Tetapi bagi Yusran, kayu adalah guru kehidupan.
Dari sepotong papan yang keras dan kasar, ia belajar tentang kesabaran. Dari ukuran yang harus presisi, ia belajar ketelitian. Dari pekerjaan yang tidak boleh tergesa-gesa, ia belajar arti tanggung jawab.
“Kayu tidak bisa dibohongi. Salah ukur sedikit saja, hasilnya rusak. Hidup juga begitu,” ujarnya pelan.
Kalimat sederhana itu seolah menjelaskan mengapa hingga kini ia tetap mempertahankan kebiasaan mengolah kayu, meski kesibukan sebagai kepala daerah nyaris tak menyisakan waktu.
Di tengah hiruk-pikuk politik dan derasnya tekanan jabatan, bengkel kayu menjadi tempat pelarian yang paling jujur. Di sana tidak ada pujian, tidak ada tepuk tangan, tidak ada pencitraan, yang ada hanyalah dirinya sendiri.
Suara mesin serut yang memekakkan telinga justru menghadirkan ketenangan. Bau kayu yang bagi sebagian orang terasa biasa, baginya adalah aroma kenangan masa perjuangan.
Di tempat itulah ia kembali mengingat hari-hari ketika hidup belum semudah sekarang.
Ketika masa depan masih berupa tanda tanya.
Ketika mimpi harus diperjuangkan dengan keringat.
“Kalau saya pegang kayu, saya selalu ingat dari mana saya berasal,” tuturnya.
Mungkin itulah alasan mengapa Yusran tidak pernah ingin berjarak dengan masyarakat. Ia tahu bagaimana rasanya hidup dari bawah. Ia memahami bahwa setiap keberhasilan selalu berdiri di atas fondasi perjuangan panjang.
Filosofi itu pula yang ia bawa dalam memimpin Konawe.
Baginya, membangun daerah tak jauh berbeda dengan membangun rumah dari kayu. Fondasi harus kuat, ukurannya harus tepat, prosesnya harus sabar. Dan yang terpenting, hasil akhirnya harus memberi manfaat bagi banyak orang.
“Kayu yang bagus tidak lahir dalam satu kali serut. Begitu juga pembangunan. Semua membutuhkan proses,” katanya.
Di tengah era ketika banyak pejabat berlomba menampilkan kemewahan, kebiasaan Yusran kembali ke bengkel kayu menghadirkan cerita yang berbeda. Cerita tentang seorang pemimpin yang tidak ingin tercerabut dari akarnya.
Tentang seorang bupati yang masih nyaman mengotori tangan dengan serbuk kayu. Tentang seorang politikus yang tetap setia pada pelajaran hidup yang ia dapatkan dari bengkel sederhana.
Karena bagi Yusran Akbar, jabatan bisa datang dan pergi. Kekuasaan bisa berganti, tetapi akar kehidupan tidak boleh dilupakan. Dan setiap kali mesin serut itu kembali berbunyi, seolah ada pesan yang terus diingatkannya pada diri sendiri, “setinggi apa pun seseorang melangkah, jangan pernah lupa dari mana ia memulai perjalanan”.
Laporan : Redaksi
Tidak ada komentar