BAITSULTRA.COM/KONAWE – Pagi itu, suasana di Kelurahan Anggaberi, Kecamatan Anggaberi, tampak berbeda. Debu tipis beterbangan di antara lalu-lalang pekerja yang sibuk menyelesaikan pembangunan sebuah rumah adat. Di tengah kesibukan tersebut, terdengar suara palu yang bersahutan, seolah menjadi irama perjuangan sebuah kelurahan yang tengah mempersiapkan diri menyambut ajang paling bergengsi di tingkat nasional.
Rumah adat yang berdiri perlahan itu mungkin hanya sebuah bangunan bagi sebagian orang. Namun bagi masyarakat Anggaberi, bangunan tersebut adalah simbol identitas, kebanggaan, sekaligus harapan besar yang sedang dirajut bersama.
Harapan itu kini mengarah pada satu tujuan besar: membawa nama Kelurahan Anggaberi dan Kabupaten Konawe bersinar dalam Lomba Kelurahan Tingkat Nasional. Perjalanan menuju titik ini bukanlah sesuatu yang instan. Di balik keberhasilan Anggaberi menjadi wakil Sulawesi Tenggara, terdapat cerita panjang tentang kerja keras, gotong royong, serta semangat warga yang tidak pernah surut untuk membangun daerahnya.
Jalan-jalan lingkungan yang tertata rapi, halaman rumah yang bersih, administrasi pemerintahan yang terus dibenahi, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berjalan aktif menjadi bagian dari proses panjang yang dilakukan selama bertahun-tahun.
Kini, seluruh upaya itu memasuki fase yang lebih menentukan.
Sebagai bentuk dukungan, Sekretaris Daerah Kabupaten Konawe, Dr. Ferdinand SP., MH, datang langsung ke lokasi pembangunan rumah adat, untuk memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai rencana. Kedatangannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap perjuangan Anggaberi yang tengah membawa nama Konawe ke tingkat nasional.
Didampingi Camat Anggaberi Suriani, S.Sos., Lurah Anggaberi Adnan Moita, S.Sos., serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Ferdinand berkeliling meninjau setiap sudut pembangunan. Ia mengamati progres pekerjaan, berdialog dengan tim pelaksana, serta memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu.
Di tengah kunjungannya, Ferdinand beberapa kali menegaskan bahwa rumah adat tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan nilai fisiknya. Rumah adat itu merupakan wajah budaya Konawe yang akan diperlihatkan kepada tamu dan tim penilai dari tingkat nasional. Di dalamnya tersimpan cerita tentang sejarah, tradisi, dan jati diri masyarakat Tolaki yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Konawe.
“Bangunan ini bukan hanya untuk kebutuhan lomba. Ini adalah simbol budaya yang menunjukkan siapa kita dan bagaimana masyarakat Konawe menjaga warisan leluhurnya,” ujarnya pada Jum’at (10/7/2026)
Pernyataan itu seakan menggambarkan semangat yang kini tumbuh di tengah masyarakat Anggaberi. Di berbagai sudut kelurahan, warga terlihat terlibat dalam berbagai kegiatan pembenahan. Ada yang membersihkan lingkungan, mempercantik taman, mengecat fasilitas umum, hingga membantu berbagai kegiatan sosial yang menjadi bagian dari persiapan lomba.
Bagi mereka, keberhasilan Anggaberi bukan hanya milik pemerintah kelurahan atau aparat daerah. Keberhasilan itu adalah milik seluruh masyarakat yang selama ini ikut menjaga lingkungan dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Sejumlah warga bahkan mengaku bangga karena kelurahannya mendapat kesempatan mewakili Sulawesi Tenggara di tingkat nasional.
Menurut mereka, kesempatan tersebut menjadi momentum untuk memperlihatkan kepada Indonesia bahwa daerah kecil di Konawe juga memiliki potensi besar, budaya yang kuat, serta masyarakat yang mampu bergerak bersama untuk mencapai tujuan yang sama.
Di tengah semangat itu, rumah adat yang sedang dibangun perlahan menjelma menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan.
Di satu sisi, bangunan tersebut merepresentasikan warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Di sisi lain, rumah adat itu menjadi simbol optimisme masyarakat dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.
Pemerintah Kabupaten Konawe pun tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata. Berbagai aspek yang menjadi indikator penilaian nasional terus diperkuat, mulai dari tata kelola pemerintahan, kualitas pelayanan publik, administrasi kelurahan, penataan lingkungan, inovasi daerah, hingga pemberdayaan masyarakat.
Semua itu dilakukan agar Anggaberi tidak hanya tampil baik secara visual, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas pembangunan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Bagi Sekda Konawe, keberhasilan Anggaberi melangkah hingga tingkat nasional merupakan bukti bahwa pembangunan yang melibatkan masyarakat dapat menghasilkan perubahan nyata.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga semangat kebersamaan hingga proses penilaian selesai.
“Kita ingin menunjukkan bahwa Konawe tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya akan budaya, semangat gotong royong, dan kemampuan masyarakatnya dalam membangun daerah,” katanya.
Menjelang senja, aktivitas pembangunan rumah adat masih terus berlangsung. Para pekerja terlihat menyelesaikan bagian demi bagian bangunan yang kelak akan menjadi salah satu ikon kebanggaan Anggaberi.
Di balik suara palu yang terus berdentang, tersimpan doa-doa sederhana dari masyarakat. Doa agar seluruh kerja keras mereka membuahkan hasil terbaik. Doa agar Anggaberi mampu tampil membanggakan di hadapan Indonesia.
Namun lebih dari sekadar meraih juara, masyarakat Anggaberi sebenarnya sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar: menjaga budaya, memperkuat kebersamaan, dan membuktikan bahwa kemajuan sebuah daerah lahir dari semangat gotong royong yang tidak pernah padam.
Dan dari sebuah rumah adat yang kini berdiri di jantung Anggaberi, harapan itu terus tumbuh, mengakar kuat seperti nilai-nilai budaya yang dijaga masyarakatnya, serta menjulang tinggi setinggi mimpi untuk membawa nama Konawe semakin dikenal di pentas nasional.
Tidak ada komentar