BAITSULTRA.COM/MAKASSAR – Di tengah gemerlap perhelatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, semangat membara datang dari Kabupaten Konawe. Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Dekranasda Konawe, Hj. Hania, S.Pd., M.Pd., Gr., tampil di garis depan memperjuangkan karya-karya perajin daerah agar mendapat tempat di panggung nasional bahkan internasional.
Sejak beberapa hari terakhir, Hj. Hania bersama tim Dekranasda Sulawesi Tenggara terlihat sibuk menata dan mempersiapkan stan pameran yang menjadi etalase kebanggaan daerah. Di balik setiap produk yang dipajang, tersimpan cerita tentang budaya, kreativitas, dan kerja keras para perajin Konawe yang selama ini terus berkarya di tengah berbagai tantangan.
Pameran yang berlangsung di Trans Studio Mall (TSM) Makassar pada 8–12 Juli 2026 itu menjadi ajang bergengsi yang mempertemukan ratusan perajin terbaik dari seluruh Indonesia. Sebanyak 204 stan dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota hadir membawa produk unggulan masing-masing dengan satu tujuan yang sama yakni memperkenalkan identitas daerah kepada dunia.
Di antara beragam produk yang dipamerkan, Tenun Tabere Tolaki menjadi primadona andalan Dekranasda Konawe. Kain tenun khas yang lahir dari kearifan budaya masyarakat Tolaki itu tidak sekadar menghadirkan keindahan motif, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, filosofi hidup, dan identitas leluhur yang diwariskan lintas generasi.
Dengan corak khas dan warna-warna yang sarat makna, Tenun Tabere Tolaki tampil sebagai simbol kebanggaan masyarakat Konawe. Hj. Hania meyakini bahwa kekuatan budaya yang melekat pada tenun tersebut menjadi modal besar untuk bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Konawe melalui tenun ini, sekaligus membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing dan diterima di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya saat meninjau kesiapan stan pameran.
Tak hanya tenun, Dekranasda Konawe juga membawa misi besar dalam pengembangan kerajinan serat alam. Tahun 2026, sektor ini menjadi salah satu program prioritas yang terus didorong untuk berkembang dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Berbagai produk kreatif berbahan pelepah pisang, bambu, pandan hutan, hingga anggrek Sorume khas Konawe turut menghiasi stan pameran. Produk-produk tersebut menjadi bukti bahwa kekayaan alam Konawe dapat diolah menjadi karya bernilai tinggi yang memiliki daya saing di pasar modern.
“Dua program prioritas Dekranasda Konawe adalah pengembangan kerajinan tenun dan pengembangan kerajinan serat alam. Keduanya menjadi fokus kami untuk terus ditingkatkan kualitas dan pemasarannya,” terang Hj. Hania.
Keikutsertaan Konawe dalam pameran nasional ini bukan sekadar ajang promosi produk. Lebih dari itu, momentum ini menjadi kesempatan emas bagi para pelaku UMKM untuk memperluas jaringan usaha, menjalin kemitraan, serta membuka akses pasar baru yang lebih menjanjikan.
Puncak kegiatan HUT ke-46 Dekranas dijadwalkan dihadiri Ketua Umum Dekranas sekaligus istri Wakil Presiden RI, Selvi Gibran Rakabuming, yang semakin menambah prestise kegiatan tersebut.
Dengan mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”, perhelatan ini menjadi simbol optimisme bahwa karya anak bangsa mampu bersaing di pasar global. Dari sudut stan Sulawesi Tenggara, semangat itu terpancar kuat melalui produk-produk unggulan Konawe yang membawa pesan sederhana namun penuh makna: bahwa dari daerah, karya besar dapat lahir dan dikenal dunia.
Di Makassar, Hj. Hania tidak hanya membawa produk kerajinan. Ia membawa harapan para perajin, identitas budaya Konawe, serta mimpi besar agar karya-karya lokal mampu menembus batas geografis dan mengharumkan nama daerah di panggung internasional. Sebuah langkah kecil dari Konawe, untuk gaung yang lebih besar di dunia.
Tidak ada komentar