Dugaan Bullying di SDN 1 Nario Indah, Kapolres Konawe: Jangan Korbankan Masa Depan Anak

waktu baca 3 menit
Senin, 31 Agu 2026 18:30 0 17 Admin

BAITSULTRA.COM/KONAWE — Polemik dugaan perundungan yang menyeret nama SD Negeri 1 Nario Indah, Kecamatan Wawotobi, hingga ramai diperbincangkan di media sosial akhirnya mendapat perhatian langsung dari Kapolres Konawe AKBP Edi Raharjono, S.I.K., M.Si. Di tengah memanasnya opini publik, Kapolres memilih turun tangan mempertemukan seluruh pihak untuk mencari fakta dan mencegah persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Langkah tersebut dilakukan bukan semata untuk meredam kegaduhan, tetapi untuk memastikan bahwa anak-anak tidak menjadi korban dari perselisihan yang terjadi di antara orang dewasa.

Senin (31/8/2026), Kapolres bersama jajaran Pejabat Utama Polres Konawe mendatangi SD Negeri 1 Nario Indah dan memimpin langsung forum klarifikasi yang melibatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe, pihak sekolah, orang tua siswa, pemerintah desa, tokoh masyarakat, pengawas sekolah, hingga organisasi pendidikan.

Dalam forum yang berlangsung terbuka itu, seluruh pihak diberikan kesempatan menyampaikan keterangan dan pandangannya. Dari hasil pembahasan, persoalan yang sempat viral tersebut mengerucut pada adanya perbedaan persepsi dan miskomunikasi antara pihak sekolah dan orang tua siswa.

Meski demikian, Kapolres menegaskan bahwa setiap persoalan yang menyangkut anak harus ditangani secara serius dan tidak boleh dianggap sepele.

“Apapun persoalannya, jangan sampai berdampak pada masa depan anak. Mereka harus tetap mendapatkan hak untuk belajar, bergaul, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman. Anak-anak tidak boleh menjadi korban konflik maupun ego orang dewasa,” tegas AKBP Edi Raharjono.

Ia juga mengingatkan bahwa penyelesaian persoalan melalui ruang publik dan media sosial tanpa komunikasi yang baik justru berpotensi memperlebar jarak antarpihak serta memperpanjang beban psikologis yang harus ditanggung anak.

Menurut Kapolres, yang dibutuhkan saat ini bukan saling menyalahkan, melainkan keberanian semua pihak untuk duduk bersama, membuka ruang dialog, dan mencari solusi yang berpihak pada kepentingan anak.

“Yang dicari adalah penyelesaian, bukan pemenang. Jangan sampai masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan secara musyawarah justru berkembang dan meninggalkan luka yang panjang bagi anak,” ujarnya.

Setelah pertemuan di sekolah, Kapolres bersama jajaran Polres Konawe melanjutkan kunjungan ke rumah siswa yang menjadi pusat perhatian dalam polemik tersebut di Desa Nario. Kunjungan itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian sekaligus memastikan kondisi anak dan keluarganya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres menyerahkan bantuan dan memberikan dukungan moril kepada keluarga. Kehadiran langsung pimpinan Polres Konawe menjadi pesan kuat bahwa perlindungan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama, baik keluarga, sekolah, pemerintah maupun aparat penegak hukum.

Dari hasil musyawarah, seluruh pihak sepakat menempuh jalur penyelesaian secara damai dan kekeluargaan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe akan memfasilitasi proses lanjutan, sementara mekanisme adat juga disepakati sebagai bagian dari upaya membangun kembali hubungan yang harmonis antara para pihak.

Langkah cepat yang diambil Kapolres Konawe dinilai berhasil mencegah polemik berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Lebih dari itu, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa setiap persoalan di lingkungan pendidikan harus diselesaikan dengan mengedepankan kepentingan anak, bukan kepentingan kelompok atau individu.

Sebab pada akhirnya, yang harus dilindungi bukan hanya nama baik lembaga atau pihak tertentu, melainkan masa depan anak-anak yang masih memiliki perjalanan panjang untuk tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita mereka.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA