Puisi Menggema, Teater Bersuara: Lastra Fest 2026 Jadi Panggung Ekspresi Anak Muda UHO

waktu baca 3 menit
Minggu, 8 Nov 2026 18:07 0 22 Admin

BAITSULTRA.COM/KENDARI – Panggung Gedung Teater Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo (UHO) mendadak hidup. Kata-kata menjelma suara, gerak tubuh menjadi bahasa, sementara puisi dan drama menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan.

Jumat (6/11/2026), panggung itu bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan ruang bagi generasi muda untuk menyuarakan isi pikiran dan perasaannya.

Suasana tersebut mewarnai gelaran Laskar Sastra (Lastra) Fest 2026. Mengusung tema Generasi Muda Bersuara dalam Sastra (Gemarasa), festival ini menghadirkan perpaduan seni tari, teater, drama, pembacaan puisi, hingga musikalisasi puisi.

Satu demi satu penampilan mengisi panggung. Ada gerak tari yang menyampaikan pesan tanpa kata, lantunan puisi yang menggetarkan rasa, hingga pertunjukan teatrikal yang mengajak penonton menyelami beragam persoalan kehidupan.

Drama bertajuk “Seribu Sunia” turut menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan. Tak ketinggalan, dramatisasi puisi menghadirkan warna tersendiri, mempertemukan kekuatan kata dengan ekspresi tubuh dan emosi.

Namun, Lastra Fest bukan semata-mata perayaan kreativitas atau ajang unjuk kemampuan mahasiswa. Di balik setiap penampilan, tersimpan pesan tentang keberanian menyampaikan gagasan, mengungkapkan keresahan, dan membaca realitas sosial melalui perspektif sastra.

Bagi para mahasiswa, panggung ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa sastra tidak harus selalu hadir dalam bentuk tulisan. Ia bisa menjelma suara, gerak, musik, bahkan pertunjukan yang menggugah kesadaran.

Ketua Panitia Lastra Fest, Lilis Wahyuni, mengaku bangga dan bersyukur kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik. Baginya, perjalanan menyelenggarakan festival ini merupakan pengalaman yang jauh lebih besar daripada sekadar menuntaskan sebuah agenda organisasi.

Proses persiapan hingga pelaksanaan menjadi ruang pembelajaran tentang kepemimpinan, tanggung jawab, kerja sama, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan pihak yang telah memberikan dukungan sehingga Lastra Fest 2026 dapat terselenggara.

Sementara itu, Ketua Umum Laskar Sastra, Azman Zulzaman, menegaskan bahwa Lastra Fest merupakan salah satu upaya organisasi dalam membuka ruang kreativitas bagi generasi muda, khususnya mahasiswa yang ingin mengembangkan potensi melalui dunia sastra.

Melalui tema Gemarasa, ia berharap anak muda tidak ragu menyampaikan pemikiran, pandangan, maupun keresahan mereka. Sastra, menurutnya, dapat menjadi salah satu jalan untuk menyampaikan suara yang mungkin selama ini tidak menemukan ruang.

Apresiasi serupa disampaikan Dewan Penasihat Laskar Sastra, La Ode Sahidin, S.Pd., M.Hum. Ia berharap kegiatan seperti ini terus dikembangkan, bukan hanya sebagai panggung pertunjukan, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran, pengembangan kreativitas, dan pengasahan potensi mahasiswa.

Lastra Fest 2026 pun menjadi pengingat bahwa generasi muda bukan sekadar penonton yang menyaksikan perubahan zaman. Mereka juga memiliki gagasan, kegelisahan, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam perubahan itu.

Sebab, sastra tidak pernah berhenti pada kata-kata yang tersusun di atas kertas. Sastra adalah suara yang mencari pendengarnya, pikiran yang menuntut ruang, dan keberanian untuk menyampaikan sesuatu ketika banyak orang memilih diam.

Di panggung Lastra Fest, anak-anak muda itu membuktikan satu hal, yakni mereka tidak hanya ingin didengar, tetapi juga memiliki sesuatu yang layak untuk disuarakan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA