BAITSULTRA.C0M/MAKASSAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe terus bergerak memperkuat fondasi ketahanan pangan daerah. Tak hanya fokus pada sektor persawahan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, Pemkab Konawe kini mulai membidik pengembangan industri peternakan modern melalui penjajakan kerja sama strategis dengan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI), salah satu perusahaan agribisnis terbesar di Indonesia.
Langkah besar itu ditandai dengan kunjungan kerja Bupati Konawe H. Yusran Akbar ST., bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ke kantor PT. CPI di Kawasan Industri Makassar (KIMA), Sabtu (11/7/2026).
Kedatangan rombongan disambut langsung jajaran manajemen perusahaan yang dipimpin Regional Head Eastern Indonesia 1 (EI 1), Ir. Hadi Widajad, S.Pt., IPU., ASEAN Eng., bersama General Manager Human Capital Personal General Affair Indonesia Timur, Baso Alim Bahri.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi Konawe untuk membuka peluang kolaborasi di sektor perunggasan, pengembangan jagung pakan, hingga pembangunan kawasan peternakan unggas terintegrasi yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Yusran Akbar dan Syamsul Ibrahim.

Dalam paparannya, Bupati Yusran memperkenalkan Konawe sebagai salah satu daerah dengan potensi pertanian terbesar di Sulawesi Tenggara. Kabupaten yang dihuni sekitar 200 ribu jiwa dan tersebar di 28 kecamatan itu memiliki kekuatan utama pada sektor pangan yang ditopang oleh infrastruktur irigasi strategis.
Keberadaan Bendung Wawotobi yang mengairi sekitar 18 ribu hektare sawah serta Bendungan Ameroro yang mulai beroperasi sejak 2024 menjadi modal besar bagi Konawe dalam menjaga produktivitas pertanian. Secara keseluruhan, luas potensi lahan pertanian dan perkebunan di daerah tersebut mencapai lebih dari 55 ribu hektare.
Tidak hanya beras, Konawe kini serius mengembangkan komoditas jagung sebagai penopang industri pakan ternak. Pemerintah daerah bahkan telah mewajibkan setiap desa menyediakan sedikitnya 10 hektare lahan khusus untuk budidaya jagung pakan.
Program tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan industri yang terus meningkat. Harga jagung yang saat ini berada di atas Rp5.000 per kilogram, dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp5.500 per kilogram, menjadi insentif tersendiri bagi petani untuk meningkatkan produksi.

“Kami ingin memastikan petani memiliki pasar yang jelas sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujarnya.
Selain membahas potensi pertanian, Bupati Yusran juga mengungkapkan kondisi sektor peternakan unggas di Konawe yang masih menghadapi berbagai tantangan. Kelangkaan telur dan daging ayam masih sering terjadi sehingga kebutuhan masyarakat harus dipasok dari luar daerah, terutama dari Kolaka dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi di tengah besarnya potensi pasar yang dimiliki Konawe. Banyak peternak yang pernah berinvestasi membangun kandang dengan biaya ratusan juta rupiah, namun akhirnya gulung tikar setelah hanya beroperasi beberapa bulan.
“Banyak kandang yang tutup dan terbengkalai. Padahal kebutuhan telur dan ayam pedaging sangat besar. Ini peluang yang harus kita tangkap bersama,” katanya.
Karena itu, Pemkab Konawe mendorong lahirnya Kawasan Industri Peternakan Unggas Terintegrasi seluas lima hektare yang dirancang menjadi pusat produksi, edukasi, dan pengembangan peternakan modern.
Kawasan tersebut nantinya akan dilengkapi fasilitas pendukung seperti akses jalan, air bersih, pengelolaan limbah, kemudahan perizinan, hingga pusat pelatihan bagi peternak. Pemerintah daerah menargetkan kawasan ini menjadi model pengembangan peternakan unggas yang mampu menarik investasi sekaligus menjadi pusat pembelajaran bagi peternak dari berbagai daerah.

“Pemerintah hadir sebagai fasilitator. Kami menyiapkan ekosistemnya agar peternak bisa berkembang dan investor merasa nyaman,” tegas Yusran.
Ia juga menilai program nasional Makan Bergizi Gratis menjadi peluang besar bagi daerah penghasil pangan. Meningkatnya kebutuhan telur dan daging ayam di berbagai wilayah membuat penguatan rantai pasok menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.
“Tugas pemerintah adalah memastikan pasokan tetap tersedia. Jangan sampai kebutuhan meningkat tetapi bahan bakunya kurang karena itu bisa memicu inflasi,” ujarnya.
Sementara itu, General Manager Human Capital Personal General Affair PT Charoen Pokphand Indonesia wilayah Indonesia Timur, Baso Alim Bahri, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Pemerintah Kabupaten Konawe.
Ia menilai pertemuan tersebut menjadi langkah awal yang positif dalam membangun sinergi antara dunia usaha dan pemerintah daerah demi memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kami menyambut baik kehadiran Bupati Konawe beserta jajaran. Semoga pertemuan ini menjadi awal kerja sama yang produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan sektor perunggasan dan ketahanan pangan daerah,” katanya.
Pertemuan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Konawe tidak hanya ingin dikenal sebagai lumbung padi Sulawesi Tenggara, tetapi juga tengah bersiap menjelma menjadi pusat pengembangan peternakan unggas dan industri pangan terintegrasi yang mampu menopang kebutuhan kawasan Indonesia Timur di masa mendatang.
Tidak ada komentar