Tombi Kerajaan Konawe Berkibar di Istana Negara, Kebanggan Tolaki di Panggung Nasional

waktu baca 3 menit
Kamis, 20 Agu 2026 17:40 0 21 Admin

BAITSULTRA.COM/JAKARTA – Di tengah gemuruh peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, yang digelar pada 17 Agustus kemarin. Ada satu momen yang membuat dada masyarakat Tolaki bergetar bangga. Di antara puluhan simbol kerajaan Nusantara, Bendera Kerajaan Konawe, Tombi kembali berkibar megah di jantung pemerintahan Republik Indonesia.

Bukan perkara mudah untuk sampai ke panggung kehormatan itu. Dari lebih 100 kerajaan dan kesultanan yang mengikuti seleksi nasional, hanya 42 yang diberi kesempatan tampil dalam kirab budaya kenegaraan. Lebih membanggakan lagi, dari wilayah Kodam XIV Hasanuddin hanya tiga kerajaan yang dipercaya hadir yakni Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone, dan Kerajaan Konawe.

Di balik kibaran Tombi tersimpan kisah perjuangan dua putra daerah yang membawa kehormatan seluruh masyarakat Konawe ke Istana Negara. Mereka adalah Sertu Kelvin Djupiter personil Koramil Wawotobi dan Koptu Jepri personil Koramil Unaaha, prajurit TNI yang dipercaya mengawal simbol kebesaran Kerajaan Konawe dalam prosesi pengambilan dan pengembalian duplikat Bendera Merah Putih serta naskah Proklamasi.

“Setelah terbit surat perintah dari Mabes TNI melalui Mabes Angkatan Darat. Seluruh peserta yang ditunjuk diwajibkan merupakan putra daerah yang memahami nilai dan simbol budaya yang dibawa,” kata Pria KelahirannAnalahumbuti, Oktober 1987 silam itu.

Sejak awal Agustus, keduanya telah meninggalkan kampung halaman menuju Jakarta. Hari demi hari mereka habiskan di bawah terik matahari ibu kota, mengikuti latihan ketat dan rangkaian gladi yang menguras tenaga.

“Setelah tiba di Jakarta pada 10 Agustus. Selanjutnya para peserta mengikuti geladi kotor di kawasan Monas pada 11–14 Agustus, geladi bersih pada 15 Agustus, dan pengecekan akhir pada 16 Agustus sebelum tampil pada upacara kenegaraan,” lanjutnya.

Namun semua upaya persiapan yang menguras energi itu seolah terbayar ketika bendera Tombi akhirnya berdiri tegak di hadapan Presiden Republik Indonesia dan jutaan pasang mata yang menyaksikan upacara kenegaraan.

“Ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi kebanggaan seluruh masyarakat Tolaki dan Sulawesi Tenggara. Tidak semua kerajaan mendapat kesempatan tampil di Istana Negara. Alhamdulillah, Konawe kembali dipercaya,” ungkap Sertu Kelvin dj.

Baginya, Tombi bukan sekadar selembar bendera. Di dalamnya tersimpan sejarah panjang Kerajaan Konawe, nilai-nilai adat Tolaki, dan identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Yang kami bawa bukan nama pribadi. Kami membawa nama Konawe, nama masyarakat Tolaki,” jelasnya.

Bagi masyarakat Konawe, kehadiran bendera Tombi di Istana Negara bukan sekadar bagian dari seremoni HUT RI. Itu adalah pengakuan bahwa sejarah dan kebudayaan Tolaki masih berdiri tegak di panggung nasional. Sebuah pesan bahwa meski zaman terus berubah, identitas budaya tetap hidup dan dihormati.

Ketika bendera Tombi berkibar di Istana Negara, yang ikut terangkat bukan hanya selembar panji kerajaan. Yang terangkat adalah martabat sebuah daerah, kebanggaan sebuah suku, dan semangat masyarakat Konawe yang terus menjaga warisan leluhurnya.

“Kepercayaan yang diberikan oleh negera, membuktikan jika Konawe, Tolaki dan sejarahnya tetap hidup dalam bingkai Merah Putih,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA