Saat BPBD Konawe Berjibaku Melawan Kemarau: Membawa Air, Membawa Harapan

waktu baca 3 menit
Selasa, 20 Okt 2026 10:59 0 20 Admin

BAITSULTRA.COM/KONAWE – Bukan lagi soal bagaimana menghindari terik matahari. Bagi sebagian warga Konawe, kemarau panjang telah berubah menjadi perjuangan untuk mendapatkan beberapa galon air bersih.

Sumur-sumur yang selama ini menjadi tumpuan perlahan mengering. Tanah mengeras, lahan pertanian mulai kehilangan harapan. Sementara kebutuhan air untuk memasak dan minum tidak pernah mengenal kata berhenti.

Di tengah kondisi itu, suara mesin kendaraan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe menjadi penanda datangnya harapan. Mobil-mobil pengangkut air dikerahkan menyusuri desa-desa yang dilanda kekeringan. Ribuan liter air dibawa untuk memenuhi kebutuhan warga yang sumber airnya tak lagi mampu diandalkan.

Operasi kemanusiaan tersebut telah menjangkau lima kecamatan, meliputi Kecamatan Soropia, Kapoiala, Amonggedo, Meluhu dan Tongauna.

Di Desa Bajo Indah dan Leppe, Kecamatan Soropia, warga harus menunggu pasokan air. Begitu pula di Desa Muara Sampara, Kecamatan Kapoiala. Di wilayah Amonggedo dan Meluhu, termasuk kawasan transmigrasi, persoalan yang sama menghantui warga.

Sebelum bantuan dikirim, tim BPBD terlebih dahulu turun melakukan asesmen. Sumur warga diperiksa, kondisi sumber air divalidasi, kemudian wilayah dengan tingkat kebutuhan paling mendesak ditetapkan sebagai prioritas.

Air yang tiba kemudian ditampung di tandon desa berkapasitas 5.500 liter. Namun jumlah itu harus dibagi kepada banyak keluarga.

Aparat desa terpaksa membatasi pembagian sekitar dua hingga tiga galon per kepala keluarga. Bukan untuk mandi. Bukan untuk mencuci. Air itu diprioritaskan untuk satu kebutuhan paling mendasar yakni memasak. Di tengah keterbatasan tersebut, warga rela berbondong-bondong datang mengambil air.

“Titik yang paling membutuhkan saat ini adalah Desa Muara Sampara dan warga transmigrasi di Meluhu. Di sana warga berbondong-bondong datang mengambil air,” jelas Kepala BPBD Konawe, Herianto Pagala.

Persoalan semakin berat karena BPBD Konawe juga menghadapi keterbatasan armada. Hanya tiga kendaraan internal yang menjadi tumpuan. Yakni mobil truk serbaguna berkapasitas empat tandon atau sekitar 4.800 liter, Ford Ranger, dan L300 dengan kapasitas sekitar 1.200 liter.

Satu unit mobil tangki tambahan dari Satgas Penanganan Darurat Bencana Kekeringan BPBK Sultra dari Kementerian Pekerjaan Umum turut membantu. Kendaraan itu difokuskan melayani wilayah Kecamatan Meluhu.

Namun kebutuhan air terus mengejar kemampuan armada. Dalam sehari, pengiriman hanya mampu dilakukan satu hingga dua trip.
Untuk mendapatkan pasokan, BPBD bahkan harus membeli air dari depo terdekat. Wilayah Kapoiala mengambil air dari Desa Besu. Sementara Soropia mendapat pasokan dari Kelurahan Lapulu, Kota Kendari.

Jarak yang harus ditempuh bukan persoalan kecil. Setiap perjalanan berarti waktu, tenaga dan bahan bakar yang harus dikerahkan agar air bisa sampai kepada warga.

Petugas pun harus bekerja hingga malam. Mereka kerap baru pulang sekitar pukul 21.00 WITA. Untuk wilayah yang jauh, sebagian petugas harus bermalam hingga dua hari di lokasi. Sistem rolling diterapkan agar pelayanan tetap berjalan.

Bagi petugas, pekerjaan ini bukan sekadar mengemudikan kendaraan dan mengisi tandon.
Ada wajah-wajah warga yang menunggu di ujung perjalanan. Ada keluarga yang menghitung sisa air di rumah. Ada petani yang menatap lahannya yang mulai kehilangan kelembapan. Dan ada kekhawatiran bahwa kemarau belum akan segera berakhir.

“Harapan saya, kemarau ini cepat berakhir. Saya kasihan melihat warga yang membutuhkan air bersih karena kemarau ini juga membuat lahan mereka gagal panen,” imbuh Herianto.

Kemarau panjang akhirnya memperlihatkan wajah lain dari sebuah bencana. Bukan banjir yang datang menerjang. Bukan pula tanah longsor yang tiba-tiba menutup jalan.

Kali ini, bencana datang perlahan. Ia mengeringkan sumur sedikit demi sedikit, mengeraskan tanah, mengancam tanaman, hingga akhirnya membuat air bersih menjadi sesuatu yang harus didatangkan dari tempat lain.

Dan ketika warga menunggu di depan tandon, beberapa galon air yang mereka bawa pulang bukan sekadar air. Itu adalah persediaan untuk bertahan hidup hingga hari berikutnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA