Bupati-Wabup Konawe Naik Perahu Arungi Sungai, Hadiri Panen Jagung Non-Pupuk Kimia di Desa Tetehaka

waktu baca 3 menit
Rabu, 17 Des 2025 19:48 0 76 Admin

BAITSULTRA.COM/KONAWE – Gelombang air sungai memecah kesunyian pagi saat sebuah perahu kayu perlahan melaju membelah arus. Di atasnya, Bupati Konawe H. Yusran Akbar, Wakil Bupati (Wabup) Konawe H. Syamsul Ibrahim duduk bersama beberapa warga, menyusuri jalur air yang menjadi satu-satunya akses menuju lahan pertanian milik warga Desa Tetahaka, Kecamatan Puriala. Perjalanan ini bukan sekadar simbolik, melainkan bukti nyata kesungguhan seorang pemimpin untuk hadir di tengah masyarakatnya.

Untuk mencapai lokasi panen jagung, Bupati harus menempuh perjalanan cukup panjang melalui sungai sejauh 2 Kilo meter (KM). Tidak ada jalan darat yang memadai. Sungai menjadi urat nadi kehidupan warga, sekaligus jalur utama distribusi hasil pertanian. Meski harus bergoyang mengikuti alur perahu dan sesekali diterpa percikan air, semangat rombongan bupati Konawe tidak surut.

Setibanya di tepi sungai, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju hamparan kebun jagung. Sesampainya di lokasi panen, kelelahan perjalanan seolah terbayar lunas. Hamparan tanaman jagung dengan tongkol-tongkol menguning yang siap dipanen menyambut kedatangan rombongan Bupati.

Kehadiran Bupati disambut senyum dan rasa bangga para petani, tangan-tangan kasar yang terbiasa mencangkul kini menyambut hangat pemimpin daerah mereka. Tanpa ragu, Bupati bersama Wabup turun langsung memetik jagung bersama petani, berdialog santai sambil mendengar cerita perjuangan mereka, mulai dari tantangan transportasi, cuaca, hingga pemasaran hasil panen. Suasana akrab tercipta di antara barisan tanaman jagung yang siap dipanen.

“Kalau petani harus naik perahu untuk membawa hasil panen, maka pemerintah juga harus merasakan jalur yang sama. Dari sinilah kita tahu apa yang perlu dibenahi,” ujar Bupati.

Bagi warga, perjalanan Bupati menggunakan perahu menjadi pesan kuat bahwa pemerintah hadir hingga ke wilayah yang sulit dijangkau. Mereka berharap, perhatian tersebut berlanjut pada peningkatan akses transportasi, sarana pertanian, serta dukungan berkelanjutan bagi petani jagung di Kecamatan Puriala.

“Luar biasa, Di sini tanpa pupuk kimia sekali pun, petani kita bisa menghasilkan jagung kering hingga 8,3 ton per hektar. Bayangkan jika kita berikan dukungan penuh,” seru Bupati dengan penuh kebanggan.

Angka ini mengalahkan rata-rata produksi di daerah lain yang dengan pupuk hanya mencapai 7 ton/ha. Rahasianya terletak pada kondisi pH tanah di pesisir Sungai Konaweha dan Rawaopa yang ideal, di atas angka 7.

Acara yang selaras dengan visi Konawe Bersahaja (Berdaya Saing, Sejahtera, Adil, Berkelanjutan) ini juga menjadi wujud dukungan nyata terhadap program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Melihat potensi Desa Tetehaka yang mencapai 600 hektar, Bupati Yusran optimis, Desa Tetehaka ini bisa menutupi program 10 hektar per desa untuk 60 desa lainnya. Konawe adalah produsen jagung terbesar di Sultra, dan akan terus pacu.

Namun, di balik produktivitas tinggi, tantangan klasik masih membelit: isolasi dan infrastruktur. Selama ini, hasil panen harus diangkut dengan perahu katinting, hanya 500 kg per kali angkut.

Menanggapi ini, Bupati Yusran langsung memberi instruksi tegas kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Konawe untuk segera mensurvei rencana pemembangunan Jalan Usaha Tani (JUT).

“Dengan begitu, tidak ada lagi alasan hasil bumi terhambat distribusidi di sini,” tegasnya.

Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe tidak berhenti di jalan, dukungan permodalan lewat KUR dari Bank Sultra dan BPR Bahteramas, jaminan serapan hasil oleh Bulog Sultra hingga kuota 1000 ton untuk Konawe, serta bantuan mesin pemipil jagung dan hand tractor akan segera digulirkan untuk tiga kelompok tani penggarap.

“Petani jangan ragu, Pemerintah Konawe akan terus hadir memutus mata rantai kesulitan dari hulu ke hilir,” jelasnya.

Kunjungan yang sarat simbol ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah prestasi, bahwa dari balik keterisolasian, Konawe siap menjadi benteng ketahanan pangan nasional, dimulai dari setongkol jagung hibrida di Desa Tetehaka.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA