BAITSULTRA.COM./KONAWE – Sebagai upaya mendukung terwujudnya percepatan percapaian swasembada pangan berkelanjutan melalui sinergitas kewenangan pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe menggelar temu wicara komisi irigasi Zona 5 dan 6, yang dipusatkan di Desa Ulu Benua, Kecamatan Amonggedo, Jumat (28/11/2025).
Agenda kegiatan tersebut meliputi evaluasi jadwal tanam, dan pola tata tanam musim tanam tahun 2025, serta penyusunan jadwal tanam 2026, dan rencana pemberian air (RPA) daerah irigasi tahun 2026.
Adapun kegiatan ini dihadiri langsung Bupati Konawe, H. Yusran Akbar ST., Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kepada Dinas TPHP, Kepala Bapedda, Kepala Bulog Unaaha, Camat Amonggedo, Camat Meluhu, Kapolsek Amonggedo, Kapolsek Meluhu, serta Kepala Desa dan masyarakat dua Kecamatan.

Ketua Komisi Irigasi Konawe, Sriany SE., M.Si., dalam laporannya mengatakan, bahwa mengelola lumbung Padi terbesar di Sulawesi Tenggara bukan hanya soal teknis, tetapi juga tanggungjawab memastikan air mengalir lancar dari hulu hingga ke sawah.
“Di setiap akhir musim tanam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A), dan kelompok tani selalu terlibat. Hasilnya nanti akan menjadi Surat Keputusan Bupati tentang pedoman jadwal tanam,” ujarnya.
Wanita yang juga menjabat sebagai Kepala Bapedda Konawe itu melanjutkan, optimalisasi total luas areal tanam dan pengembangan komoditas lain menjadi bagian dari strategi pengelolaan irigasi berkelanjutan.
“Kita ini ujung tombak di lapangan, karena komisi irigasi harus mampu mengeluarkan jadwal tanam yang akurat agar petani bisa bergerak efektif,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Konawe H. Yusran Akbar ST., dalam sambutannya mengatakan, Konawe merupakan Kabupaten dengan potensi lahan persawahan terluas dari 17 Kabupaten/Kota yang ada di Sultra. Tentu bukan saja faktor luas lahan dan sumber daya air yang melimpah, tetapi diperlukan kemampuan dan keterampilan dari berbagai pihak.

“P3A dan GP3A adalah kelembagaan pengelola irigasi yang menjadi wadah petani pemakai air, sedangkan Komisi Irigasi adalah lembaga koordinasi ke Pemkab sehingga harus menjadi wadah untuk menyelenggarakan program dan kegiatan serta membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan irigasi dan pengelolaan air untuk pertanian,” jelasnya.
Bupati melanjutkan, kegiatan temu wicara tersebut adalah upaya penting dalam mendukung terwujudnya percepatan pencapaian swasembada pangan yang berkelanjutan, melalui sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai upaya mewujudkan asta cita.
Kata Bupati, pola tanam yang baik tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga keberlanjutan lahan pertanian, efisiensi penggunaan air, dan mendorong peningkatan hasil panen padi bagi para petani di Konawe.

“Untuk itu saya berpesan kepada anggota P3A dan Petani di Konawe agar selalu melindungi lahan-lahan pertanian persawahan dari alih fungsi agar ketersediaan lahan tetap terjaga, ” harapnya.
Disamping itu Bupati juga mengingatkan jika sektor Pertanian, perkebunan, dan peternakan harus maju. Karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan presiden, hubungannya sangat tipis tapi penting dengan pertanian. MBG tidak akan sukses kalau sawah gagal panen.
Ia menjelaskan bahwa dalam titik satu program nasional terdapat Ketahanan Pangan, MBG, dan Koperasi Merah Putih sebagai pembinaan kewirausahaan untuk distribusi pangan.
“Program ini tidak akan sukses kalau ketahanan pangannya gagal. Jadi kolaborasi dengan pemerintah itu wajib,” tutupnya.
Tidak ada komentar