Kisah Perjuangan Rulianto: Raup Rp2 Juta Semalam di Tengah Gemerlap Malam Kota Unaaha

waktu baca 5 menit
Minggu, 1 Nov 2026 10:20 0 26 Admin

KONAWE, BAITSULTRA.COM – Malam belum benar-benar larut. Lampu-lampu di kawasan Inolobunggadue Central Park (ICP) Unaaha masih memancarkan cahaya, menerangi deretan lapak kuliner yang dipadati pengunjung.

Suara kendaraan, obrolan para pengujung, dan aroma aneka makanan berpadu menjadi gambaran hidupnya malam di jantung Kota Unaaha.

Di antara keramaian itu, ada sebuah gerobak kayu sederhana yang tak pernah kehilangan daya tarik. Kepulan uap panas dari tumpukan kacang rebus menjadi penanda keberadaan lapak milik Rulianto, pria asal Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe.

Di balik gerobak itulah ia merajut harapan. Bukan dengan modal besar, bukan pula dengan fasilitas usaha mewah. Hanya bermodalkan gerobak kayu, kacang tanah, dan kemauan untuk terus bekerja.

Bagi Rulianto, malam bukan waktunya beristirahat. Justru ketika sebagian orang menikmati waktu santai bersama keluarga, ia harus berdiri berjam-jam melayani pembeli demi mendapatkan penghasilan.

Sabtu malam (31/10/2026), kesibukan itu terlihat jelas. Mengenakan kaus abu-abu bermotif garis hitam, Rulianto tampak sedikit membungkuk menjangkau tumpukan kacang yang masih mengepul. Tangannya bergerak cekatan mengambil dan menyiapkan pesanan.

Di hadapannya, sejumlah pembeli berdiri mengelilingi gerobak. Orang dewasa hingga anak-anak tampak menunggu giliran. Ada yang membeli untuk dinikmati di tempat, ada pula yang membawanya pulang.

Sesekali Rulianto memeriksa dagangan, lalu kembali melayani pelanggan. Hampir tak ada waktu untuk berdiam diri. Pembeli datang silih berganti, sementara kacang rebus yang tersaji hangat terus berpindah ke tangan pelanggan.

Pemandangan itu memperlihatkan sesuatu yang sederhana, tetapi penuh makna. Sebuah gerobak kayu yang mungkin bagi sebagian orang tak lebih dari lapak kecil, ternyata menjadi tumpuan kehidupan bagi pemiliknya. Di balik kepulan uap panas tersebut, tersimpan cerita tentang peluang ekonomi yang tidak kecil.

Rulianto mengaku, pada malam-malam biasa, kacang rebus yang dijualnya bisa mencapai sekitar 30 liter. Jumlah itu sudah cukup untuk menghasilkan omzet ratusan ribu rupiah.

“Alhamdulillah, untuk malam-malam biasa, saya bisa habis sekitar 30 liter,” tuturnya di sela kesibukan melayani pembeli.

Namun, suasana malam Minggu menghadirkan cerita berbeda. Ketika pengunjung ICP meningkat, lapaknya ikut diserbu pelanggan. Permintaan kacang rebus melonjak hingga sekitar 80 liter dalam semalam.

“Kalau malam Minggu, bisa tembus 80 liter. Ramai sekali, apalagi kalau sudah malam hari begini,” ujarnya.

Satu liter kacang rebus dijual Rp25 ribu, sedangkan setengah liter dibanderol Rp15 ribu.
Dengan harga tersebut, penjualan 30 liter berpotensi menghasilkan omzet sekitar Rp750 ribu. Sementara ketika 80 liter habis terjual, omzetnya bisa menyentuh angka Rp2 juta dalam satu malam.

Angka itu tentu masih merupakan pendapatan kotor. Ada biaya pembelian kacang tanah, bahan bakar, dan kebutuhan operasional lainnya yang harus dikeluarkan.

Namun, bagi sebuah usaha sederhana, capaian tersebut menjadi gambaran bahwa kerja keras dan ketekunan dapat membuka peluang penghasilan yang menjanjikan.

Apa yang terlihat oleh pembeli mungkin hanya kacang rebus hangat yang siap disantap. Tetapi di baliknya terdapat pekerjaan yang tidak sederhana.

Ada bahan baku yang harus disiapkan, kacang yang harus direbus, tingkat kematangan yang mesti dijaga, serta waktu panjang yang harus dilalui sebelum dagangan sampai ke tangan pelanggan.

Rulianto harus memastikan kacang tetap hangat dan kualitasnya terjaga. Sebab, pelanggan bukan hanya membeli makanan, tetapi juga mengharapkan rasa dan kualitas yang sama setiap kali datang.

Di tengah kesibukan itu, ia terus berusaha memberikan pelayanan terbaik. Baginya, kepercayaan pembeli adalah modal penting untuk mempertahankan usaha.

Tidak ada jaminan setiap malam akan seramai akhir pekan. Ada malam ketika pembeli datang dalam jumlah biasa, tetapi ada pula malam ketika gerobaknya nyaris tak berhenti melayani pesanan.

Rulianto tidak menunggu kesempatan datang mengetuk pintu. Ia memilih membuka jalan sendiri, memanfaatkan keramaian kawasan ICP untuk mengembangkan usaha kecil yang dimilikinya.

Kehadiran Rulianto di kawasan ICP Unaaha menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat yang tumbuh di pusat kuliner tersebut.

Di sepanjang kawasan, tenda-tenda pedagang berdiri berjejer. Meja-meja dipenuhi pengunjung, kendaraan lalu-lalang, dan warga terus berdatangan menikmati suasana malam.

Di tempat itu, para pelaku usaha kecil mendapatkan ruang untuk menawarkan dagangan sekaligus menjangkau konsumen.

Bagi sebagian orang, ICP mungkin menjadi tempat menghabiskan waktu bersama keluarga atau sekadar menikmati makanan. Namun, bagi pedagang seperti Rulianto, kawasan tersebut memiliki arti lebih besar: tempat mencari nafkah dan memperjuangkan masa depan.

Setiap pembeli yang datang membawa harapan. Setiap transaksi menjadi bagian dari perputaran ekonomi. Dan setiap lapak menyimpan cerita tentang orang-orang yang memilih bertahan melalui usaha sendiri.

Malam terus bergerak menuju dini hari. Kepulan uap dari gerobak Rulianto masih terlihat di bawah cahaya lampu. Tumpukan kacang perlahan berkurang, seiring pembeli yang terus berdatangan.

Mungkin bagi orang yang melintas, gerobak itu hanyalah tempat membeli camilan malam. Namun, bagi Rulianto, di sanalah sebagian besar harapan hidupnya dititipkan.

Ia tidak sedang mengejar gemerlap kota. Ia hanya berusaha memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga dapat terpenuhi.

Dari gerobak kayu sederhana, Rulianto mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Tidak harus memiliki gedung megah, modal miliaran, atau usaha dengan puluhan karyawan.

Terkadang, keberanian memulai, ketekunan menjaga usaha, dan kesediaan bekerja ketika orang lain beristirahat sudah menjadi langkah besar untuk mengubah kehidupan.

Di tengah gemerlap malam Unaaha, Rulianto terus merebus kacang. Tetapi sesungguhnya, yang sedang ia panaskan bukan hanya dagangan, melainkan juga harapan agar kehidupan esok hari menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA