BAITSULTRA.COM/KONAWE – Di saat sebagian besar anak-anak perkotaan sibuk menatap layar ponsel dan tenggelam dalam dunia digital, pemandangan berbeda justru masih hidup di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Sore itu, ketika langit yang semula terang perlahan mulai meredup, seolah ikut menyaksikan sebuah kisah sederhana yang setiap hari terulang, namun tidak pernah kehilangan makna.
Di sebuah hamparan tanah keras yang retak, berdebu, dan berwarna merah puluhan anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Tempat itu jauh dari kata lapangan layak. Tidak ada rumput hijau yang memanjakan mata, tidak ada garis putih yang membatasi permainan, bahkan gawang pun hanya ditandai dua batu yang disusun seadanya.
Namun di sanalah, kehidupan terasa begitu hidup. Bola yang mereka kejar adalah bola yang hampir kehilangan bentuknya. Kulitnya terkelupas, jahitannya tampak kasar seperti luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Setiap kali ditendang, bola tersebut memantul tidak menentu, kadang liar, kadang tiba-tiba berhenti. Namun justru dari ketidaksempurnaan itulah, permainan menjadi lebih bermakna.
Kaki-kaki kecil itu menghantam tanah tanpa ragu. Debu beterbangan, menempel di wajah, rambut, bahkan memenuhi udara yang mereka hirup. Namun tidak satu pun dari mereka tampak terganggu. Yang ada hanyalah tawa yang lepas yang mengalir begitu jujur, tanpa dibuat-buat.
“Oper! Oper cepat!” teriak seorang anak dengan napas terengah.
Bola pun berpindah, diiringi sorakan teman-temannya. Lalu sebuah tendangan keras dilepaskan.
“Goool!”
Teriakan itu menggema, memecah kesunyian kampung yang biasanya tenang. Sorak sorai mereka terdengar seperti gemuruh stadion besar, padahal tidak ada penonton, tidak ada sorotan. Hanya mereka, anak-anak yang bermain dengan sepenuh hati.
Sesekali, permainan terhenti. Bukan karena peluit wasit, melainkan karena salah satu dari mereka terjatuh. Lutut tergores, kaki terkena batu, tubuh tersungkur di tanah keras. Namun tangis menahan rasa sakit hanya sesaat.
Mereka bangkit cepat, menepuk debu yang menempel, lalu kembali berlari seolah rasa sakit hanyalah gangguan kecil dalam perjalanan yang terlalu indah untuk dihentikan.
Tidak ada suara notifikasi ponsel yang memecah suasana. Yang terdengar hanyalah teriakan riang saat mencetak gol, gelak tawa ketika terjatuh, dan candaan khas anak-anak kampung yang begitu jujur dan hangat.
Bagi sebagian orang, kondisi itu mungkin terlihat tertinggal. Namun dibalik keterbatasan tersebut, tersimpan nilai kehidupan yang perlahan mulai hilang di era modern.
Kehidupan anak-anak di Kecamatan Routa tidak selalu mudah, seperti anak-anak diperkotaan yang setiap sore menikmati segala permainan di Inolobunggadue Central Park (ICP) Kota Unaaha. Namun di lapangan tanah merah ini, mereka menikmati masa kecil yang utuh, bermain, berlari, menikmati kebebasan untuk tertawa, dan merasakan dunia nyata secara langsung.
Seorang warga setempat, Rahman berdiri di pinggir lapangan, matanya mengikuti setiap gerakan anak-anak itu. Ada sesuatu yang dalam tatapannya, antara bangga dan haru.
“Setiap sore mereka pasti di sini. Kadang hujan, kadang panas, tetap saja mereka main. Kita yang lihat ini, rasanya campur aduk. Senang, tapi juga terharu,” ujarnya.
Ia mengaku, permainan sederhana itu sering kali menjadi hiburan tersendiri bagi warga. Di tengah kesibukan dan keterbatasan, tawa anak-anak menjadi energi yang menghidupkan suasana kampung.
Sementara itu, waktu terus berjalan. Matahari semakin tenggelam, menyisakan cahaya redup yang perlahan ditelan gelap. Bayangan anak-anak itu memanjang di atas tanah, menciptakan bayangan yang seolah bercerita tentang semangat yang tidak pernah padam.
Namun permainan belum juga berhenti. Mereka terus berlari, seakan menantang waktu. Nafas mulai berat, dada naik turun, keringat bercampur debu menempel di tubuh.
Hingga akhirnya, malam benar-benar datang. Suara azan magrib perlahan terdengar dari kejauhan. Satu per satu langkah mereka melambat. Bola berhenti menggelinding. Tawa mulai mereda, digantikan oleh suara napas yang terengah. Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum-senyum kecil yang menyimpan kepuasan sederhana.
Mereka pulang dengan tubuh kotor dan kaki yang mungkin perih. Namun di hati mereka, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar permainan yakni kebahagiaan yang utuh.
Seorang ibu rumah tangga, Nia, mengaku bersyukur anak-anak di desanya belum terlalu bergantung pada gadget.
“Kalau sore begini mereka pasti keluar main, kadang sampai magrib baru pulang. Karena di sini jaringan internet hanya berada di tempat-tempat tertentu, listrik pun tidak 24 jam,” katanya.
Fenomena ini menjadi potret sederhana bahwa kebahagiaan anak tidak selalu hadir dari teknologi mahal. Di daerah pedalaman Konawe itu, kebahagiaan justru lahir dari tanah lapang, udara sore, dan persahabatan yang tumbuh tanpa batas sinyal internet.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, anak-anak Routa seolah mengajarkan satu hal penting: masa kecil bukan tentang seberapa canggih gadget yang dimiliki, melainkan seberapa bebas mereka tertawa dan bermain bersama.
Laporan : Dedi Finafiskar
Tidak ada komentar