Bupati Yusran Gagas Konawe Jadi Daerah Wisata Petik Kelengkeng

waktu baca 5 menit
Rabu, 10 Sep 2025 18:36 0 118 Admin

BAITSULTRA.COM./ KONAWE – Bupati Konawe H. Yusran Akbar ST., menghadiri Panen Raya Kelengkeng New Cristal di Desa Lalombonda, Kecamatan Amonggedo, pada Rabu (10/9/2025).

Acara tersebut turut juga dihadiri, Sekda Konawe, Dr Ferdinand, sejumlah kepada OPD, Ketua Tim Penggerak PKK, Hj Hania, SPd, MPd Gr, tokoh masyarakat dan sejumlah petani Kecamatan Amonggedo.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati memberikan apresiasi kepada Kepala Desa Lalombonda, Budiarto yang sejak 2017 menanam kelengkeng hanya sebagai hobi, namun kini menjadi pelopor agribisnis buah unggulan.

“Ini bukti kalau petani kita punya hati, punya tekad, dan punya mimpi besar. Ini bukan sekadar panen, ini gerbang ekonomi baru untuk masyarakat,” tegas Bupati disambut tepuk tangan meriah.

Ia menekankan bahwa Kelengkeng New Cristal bukan buah biasa. Di mata pasar, kelengkeng setara dengan apel.

“Ini buah elite. Kalau ke acara resmi provinsi atau kementerian, pasti ada kelengkeng. Dan menariknya, buah kelengkeng dibeli oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Ini peluang besar,” terangnya.

Bupati Yusran mengungkapkan strategi besar Pemkab Konawe yaitu “Kawasan Tematik Berbasis Potensi Desa.”

“Kita tidak bisa seperti Jawa yang satu desa satu komoditas. Di Konawe, kita buat kawasan tematik: satu kecamatan, satu komoditas unggulan. Amonggedo, Ya Kelengkeng Plus durian, dan sapi,” terangnya.

Ia meminta kepala desa se-Amonggedo untuk segera memberikan feedback ke dinas terkait. Soal tanaman apa yang cocok, lahan kosong berapa hektar, populasi ternak berapa ekor. Semua data itu akan jadi dasar program pemerintah.

“Jangan sampai bantuan kandang sapi diberikan ke yang bukan peternak. Jangan sampai lahan sawah baru ditolak karena masyarakat lebih suka sawit. Kita harus jujur, transparan, dan tepat sasaran!”

Salah satu program andalan Koperasi Desa Merah Putih. Bupati ingin koperasi desa menjadi pemasok utama untuk Program Makan Bergizi Gratis (BMG) yang akan menyasar 33 dapur di Konawe hingga Desember 2025.

“Kalkulasinya. Satu dapur butuh 4 ekor sapi per minggu. Kalau 33 dapur? Bisa 120 ekor per bulan! Bayangkan uang yang berputar di petani kita. Belum lagi kebutuhan buah, sayur, telur, ayam. Ini peluang emas!”

“Bendungan tahun 80-an sulit menyuplai air ke sini. Elevasinya beda, dikisaran 25-30 meter. Jadi kita bangun embung-embung kecil. Tahun ini kita dapat bantuan normalisasi saluran irigasi — bersihkan lumpur, sedimen, rumput. Biar air bisa mengalir maksimal.”ujarnya.

Bupati Yusran juga mengungkap peluang besar di sektor peternakan:

“Beli sapi Rp8 juta, gemukkan 3 bulan, jual Rp11-12 juta. Untung Rp3-4 juta per ekor. Kalau beli 5 ekore, Untung Rp15-20 juta dalam 3 bulan!. Ini bukan mimpi, ini nyata,” katanya.

Ia juga memerintahkan Dinas Peternakan untuk segera membuat program penggemukan sapi skala kecil, agar lebih banyak petani yang bisa ikut.

“Jangan kasih 20 ekor ke satu orang. Kecilkan, biar merata. Dokter hewan harus turun lapangan, bantu agar sapi bisa produksi optimal setahun,” tegasnya.

Dengan nada serius, Bupati meminta seluruh kepala desa dan aparat untuk Identifikasi potensi desa secara akurat lahan kosong, jumlah petani, populasi ternak.

Sosialisasikan program cetak sawah, meski tren sawit tinggi, hitung untung-ruginya secara ekonomis. Bangun sinergi dengan penyuluh dan dinas jangan biarkan program gagal karena data salah.

“Kalau ada warga tolak cetak sawah, ya tidak apa-apa. Tapi jangan nanti minta lagi. Kita prioritaskan yang mau dulu. Dana APBN ini bukan uang saya, ini uang rakyat, untuk rakyatrakyat,” sambungnya.

Di penghujung pidatonya, Bupati Yusran kembali menegaskan visinya, dirinya ingin menjadikan Konawe dikenal bukan hanya karena sawit, tapi karena wisata petik kelengkeng.

“Seperti Malang punya apel, kita punya kelengkeng. Bapak Budiarto sudah buktikan. Sekarang giliran kita semua petani, kepala desa, dinas, koperasi untuk membesarkan ini bersama,” jelasnya.

“Mari kita bangun Konawe dari desa. Karena kekuatan kita ada di bawah. Ekonomi rakyat adalah kekuatan sejati. Jangan biarkan uang BMG lari ke luar daerah. Mari kita rebut peluang ini untuk petani, untuk anak-anak kita, untuk masa depan Konawe yang berdaulat pangan dan sejahtera,” tutupnya.

Desa Lalombonda menjadi pelopor tanaman kelengkeng di Amonggedo, dipimpin oleh Kepala Desa Budiarto, SE., yang sejak tahun 2017 mulai menanam 3 pohon kelengkeng sebagai hobi. Namun, setelah mempelajari teknik budidaya lebih lanjut, ia mengembangkan usaha ini hingga mencapai skala besar. Pada tahun 2021, tanaman kelengkeng di Desa Lalombonda mulai berkembang pesat, bahkan sempat menjadi narasumber di TVRI Kendari tentang Pembudidayaan Tanaman Kelengkeng.

Saat ini, jumlah pohon kelengkeng di enam desa prioritas—Lalombonda, Wawohine, Mataiwoi, Watulawu, Amendete, dan Puasana—mencapai sekitar 8.000 pohon, didanai melalui Program Dana Desa.

Kelengkeng varietas New Cristal menjadi unggulan karena memiliki kualitas tinggi, bisa berbuah hingga tiga kali dalam dua tahun (8–9 bulan), dengan produksi optimal mencapai 70 kg per pohon. Harga jual di pasar bervariasi antara Rp30.000 hingga Rp75.000 per kilogram, tergantung kualitas dan keindahan buah.

Untuk meningkatkan nilai tambah, panen kelengkeng tidak hanya ditujukan untuk penjualan langsung kepada pedagang, tetapi juga dikemas sebagai Wisata Petik Kelengkeng. Inisiatif ini diharapkan dapat meniru model sukses “Wisata Petik Apel” di Kota Malang, Jawa Timur.

Sementara itu, Camat Amonggedo Megahwati mengungkapkan, bahwa hasil panen kelengkeng nantinya akan dikerjasamakan dengan Koperasi Merah Putih untuk dijadikan bahan makanan bergizi dalam program Bantuan Makanan Bergizi (BMG), mendukung kesejahteraan masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu hamil.

Panen Raya Kelengkeng New Cristal bukan sekadar perayaan panen, melainkan simbol transformasi pertanian modern di Konawe. Dari seorang petani biasa, Budiarto berhasil membawa kelengkeng menjadi komoditas unggulan yang menjanjikan. Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi lintas sektor, Amonggedo sedang menuju era baru: pertanian berkelanjutan, ekonomi berbasis pertanian, dan pariwisata agraris.

“Kami berharap, ke depan, Kabupaten Konawe bisa dikenal tidak hanya karena sawit, tapi juga karena wisata petik kelengkeng,” tutup Camat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA