BAITSULTRA.COM/KONAWE – Malam takbiran di Desa Analahumbuti, Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) selalu datang dengan cara yang berbeda. Ketika langit mulai diselimuti gelap dan gema takbir pertama berkumandang dari masjid, desa kecil itu perlahan berubah menjadi lautan cahaya.
Satu per satu obor bambu dinyalakan. Api kecil di ujungnya bergetar tertiup angin malam, lalu menjelma menjadi barisan cahaya yang memanjang di sepanjang jalan desa.

Anak-anak berlari kecil sambil menggenggam obor di tangan mereka. Wajah-wajah polos itu tampak berseri, memantulkan cahaya api yang menari di kegelapan. Tawa mereka pecah di antara lantunan takbir yang terus menggema dari pengeras suara.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”
Suara takbir menggulung di udara malam, berpadu dengan langkah kaki ratusan warga yang berjalan perlahan mengelilingi desa. Di tangan mereka, obor-obor menyala seperti bintang yang turun ke bumi.
Di belakang barisan anak-anak, para pemuda berjalan dengan langkah mantap, menjaga api tetap menyala. Sementara para orang tua mengikuti dengan wajah penuh haru, seolah sedang menyaksikan tradisi lama yang kembali hidup di hadapan mereka.

Pawai obor di Desa Analahumbuti bukan sekadar arak-arakan malam takbiran. Ia adalah cerita panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi, tentang bagaimana sebuah desa menyambut Idulfitri dengan cara sederhana namun sarat makna.
Di sepanjang jalan desa, warga yang tidak ikut pawai berdiri di depan rumah mereka. Ada yang tersenyum, ada yang mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen langka itu. Cahaya api yang berderet membuat jalan-jalan desa tampak seperti sungai cahaya yang mengalir perlahan.
Api obor kadang berdesir ketika tertiup angin, menari kecil sebelum kembali tegak menyala. Di balik cahaya itu, tersimpan harapan-harapan baru, doa-doa yang dilangitkan setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu.
Bagi masyarakat Analahumbuti, pawai obor adalah tanda kemenangan. Ia menandai berakhirnya Ramadhan sekaligus menyambut datangnya hari suci Idulfitri, hari ketika manusia kembali pada fitrahnya.
Malam semakin larut. Takbir masih terus menggema dari atas mobil, Barisan obor akhirnya kembali ke titik awal perjalanan, tepatnya di depan balai Desa.

Satu per satu api mulai dipadamkan. Namun cahaya yang sempat menerangi jalan-jalan desa itu seakan masih tersisa di mata dan hati warga.
Di Desa Analahumbuti, malam takbiran bukan hanya tentang suara takbir yang membelah langit. Ia juga tentang cahaya obor yang berjalan bersama warga, menjadi saksi bahwa tradisi, kebersamaan, dan kegembiraan masih hidup di tengah desa yang sederhana itu.
Kepala Desa Analahumbuti, Algusman ST., mengatakan, bahwa pawai obor merupakan kegiatan yang selalu dilakukan setiap tahun dalam rangkan menyambut malam idulfitri.
Dikatakannya, dalam pawai obor ini para panitia menyiapkan segela sesuatunya seperti menyiapkan BBM atau minyak tanah kepada para peserta, serta air mineral jika sewaktu-waktu para anak merasa haus.
“Selain itu kita juga menyiapkan hadiah berupa uang tunai kepada para pemenang lomba obor dengan kriteria pemilik obor terbaik,” jelasnya.
Tidak ada komentar